Aroma Doa, Aroma Dosa

Aku dibesarkan oleh gema yang memanggil jiwa,
oleh doa yang terjaga di sela-sela lembar kitab tua.
Namun di dadaku bara menganga,
menggeliat pelan, dosa-dosa itu telah bercinta.

Barangkali itu sebabnya doa dan dosa serupa aromanya,
lahir dari dada yang lupa cara menjaga nyala.
Lilin terbakar terlalu lama di jemari yang percaya,
lelehnya merayapi kulit yang menyerah pada cahaya.

Aku berlutut, diantara iman dan dosa,
kubiarkan keduanya bersentuhan saling menyebut namanya.
Kugumamkan kau seperti ayat yang rapuh akan makna,
kuduakan lirihnya, sampai iman terasa punya raga.

Tanganku naik, berat memeluk langit-langit doa,
menggigil di antara takut dan percaya.
Mungkin Tuhan menutup mata atau justru menatap lama,
saat hasrat merayu menyebut dirinya cinta.

Aku dikenyangkan oleh amin dan ancaman neraka,
oleh Tuhan yang selalu hadir dalam rupa amarahnya,
oleh cinta yang kupelajari harus diam saja,
agar boleh disebut suci di mata manusia.

Mereka bilang iman itu tanpa cela,
tapi jemarinya lengket oleh dosa yang ia lemparkan pada sesamanya.
Pagi mereka mencium kitab dengan bibir berdoa,
malam mereka menghitung batu sambil tertawa.
Tubuh disebut bejana dosa,
selama tak tunduk pada tafsir yang berkuasa.

Mungkin Tuhan lelah dipinjam namanya,
untuk menjerat leher siapa saja.
Doa menjelma cambuk tanpa suara,
sementara kasih membeku di luar pagar sana.

Di sini, dosa punya mimbar,
dan kasih sayang berdiri di luar pagar,
menunggu giliran diakui manusia
yang sibuk merasa paling benar.

Aku tak percaya neraka
lebih panas dari rumah ibadah yang kehilangan cinta.
Aku tak percaya surga
dibangun dari penyangkalan diri yang memaksa cinta berpakaian dosa.

Jika ini salah, mengapa terasa begitu pas di jiwa?
Jika ini suci, mengapa gemetar menyergap raga?
Doa dan dosa bertukar jubah tanpa suara di dalam gelapnya,
keduanya terbakar, keduanya meminta pengakuan.

Jika cinta adalah dosa,
biarlah aku hangus sepenuhnya.
Aku tak minta ampun atas api yang kupelihara.
Aku hanya minta, biarkan aku habis dengan makna.




"Barangkali itu sebabnya doa dan dosa punya aroma yang sama,
keduanya lahir dari sesuatu yang terbakar terlalu lama."

Comments