Binasa Lagi, Di Tanganmu Berulang Kali

Aku sempat menyukai rasa hangat di perutku, aku peluk ia, aku rawat tanpa curiga. 
Aku membiarkannya tumbuh, kau tahu benar sepatuh apa aku menjamu cinta.
Sampai aku menunduk dan melihat pisau itu sudah tertanam di sana.
Aneh, tikamannya tak terasa, tubuhku menerimanya dengan biasa.

Yang benar-benar membunuhku ternyata bukan darahnya, bukan robekannya, bukan pula belatinya, 
tapi saat aku mengangkat kepala dan melihat siapa yang menggenggam gagangnya. 
Gaunku telah membusuk penuh nanah semua,
namun yang kau risaukan cipratan darahku mengotori kemejamu saja.

Aku bersumpah mendengarkanmu berdarah mataku. 
Seperti mengiris urat-urat leher kiri,
Hampir putus setengah nyawaku karenamu, lagi.


Comments