Kau Sendirianlah Berdansa

Kau tahu mas, aku mulai cemburu pada pohon-pohon kelapa. 
Mereka tak pernah berdusta saat berkata bahwa setiap malam ada angin yang setia mengajaknya berdansa. Mereka tak pernah malu mengakui setiap angin yang pernah mengelus pelepahnya, menyimpan cerita setiap desiran asing dalam lingkaran tahun batangnya. Setiap helai daunnya adalah lembaran jurnal yang terbuka, tak ada kisah yang disembunyikan, tak ada tarian yang dipungkirinya.

Sedangkan kau? Kau simpan ribuan angin liar di lipatan kerah kemejamu, mengira aku takkan mencium aroma garam yang bukan dari bibir pantaiku. 'Ini hanya angin biasa', sumpahmu, padahal yang 'biasa' itu adalah caramu membohongiku.

Dan sementara pohon kelapa tetap jujur pada ritmenya, mas. Kau membuatku percaya hanya aku satu-satunya yang mengerti bahasa dansa kita, membiarkanku mengira semua gerakan yang kita punya masih seirama. 

Bagaimana bisa kau biarkan liar angin mencuri panggungku di sana? Bagaimana bisa kau tunggu sampai kakiku patah sendiri di antara irama yang kau mainkan untuk banyak telinga, baru kau bisikkan, 'Maaf sayang, aku tak sengaja.'

Tapi teruskan saja mas, susunlah simfoni dustamu semerdu yang kau bisa, seret semua air mataku dalam lakon sandiwara. Kelak, ketika kau menoleh, jangan terkejut jika kau menemuiku telah menjadi samudera, tak ada lagi tarianmu yang sanggup mengeriakkan ombaknya.

Kau sendirianlah berdansa.

Comments