Jiwanya ditarik ke sana kemari,
antara ingin dan harapan yang terus menghakimi.
antara ingin dan harapan yang terus menghakimi.
Langit-langit kepalanya dipenuhi deritan gigi,
suara-suara kecil memaku dinding batin sendiri,
tak sempat pulih, tak sempat mengerti.
Benang-benang kusut menjalar dalam nadi,
dirayapi tangan-tangan asing menari-nari,
mulut-mulut liar menanak namanya di atas api,
jelaganya membeku hitam pada lipatan nurani.
Bangkai umur bergelayutan di lehernya, dingin dan berkarat besi.
Rahang esok mengetuk tulang rusuknya sepanjang dini,
meminta tubuh yang habis terbagi,
sementara jam-jam dinding mengunyah pelan sisa mimpi.
Retak-retak telah menjalar di lantai pertunjukkan,
Kepalanya menunduk setiap kali langit disentakkan,
lampu-lampu panggung membakar topengnya perlahan,
tepuk tangan penghukuman berjatuhan.
Sialan, tali-tali itu tetap dimainkan tanpa ampunan.
Menghimpitnya dalam ruang...
dilihat dan dimanfaatkan,
dibebani dan diasingkan,
didekap dan diabaikan.
dibebani dan diasingkan,
didekap dan diabaikan.
Hingga yang tertinggal hanya tulang belulang,
kering kerontang,
dan kebingungan-kebingungan yang tak punya jalan pulang.
kering kerontang,
dan kebingungan-kebingungan yang tak punya jalan pulang.
Ia berjalan di antara keduanya,
talinya yang direntangkan di atas jurang.
Sedikit condong ke belakang, ia tenggelam dimakan sesal.
Sedikit melangkah ke depan, ia dicekik ketakutan.
talinya yang direntangkan di atas jurang.
Sedikit condong ke belakang, ia tenggelam dimakan sesal.
Sedikit melangkah ke depan, ia dicekik ketakutan.

Comments
Post a Comment