Pulanglah, tanpa aku. Pulanglah, bukan kepadaku.

Ia baru tiba di balik meja bar yang tertata, 
aromanya wangi tubuh-tubuh asing yang masih hangat di kerahnya, 
kemejanya rapi tak seperti gaunku yang lusuh di sana sini, 
tapi ini sudah waktuku pulang, untuk apa lagi? 

Katanya, datangnya untuk menuntaskan apa yang menjadi sumpahnya. 
Kataku, simpan saja, kantongi kembali semua yang kau bawa. 
duduk diam, atau hilang tanpa tanda seperti biasanya, 
telah hambar lidahku di buatnya. 

Bicaralah padaku dengan berpuluh-puluh bahasa, 
hingga mulutmu berbusa, 
percuma saja, 
sebab aku hanya butuh satu sikap sederhana, 
untuk tahu dan mengerti maumu apa. 
Bukankah sejak awal kau hanya menunda tanggal binasa ku saja? 

Kau tahu benar, berubah sedikit saja hatimu dari janji-janji, 
seluruh garisnya takkan pernah kembali rapi. 
Tak perlu bertanya, tak perlu mengais sisa-sisa, 
pulang saja, 
toh semuanya sudah kehilangan wajahnya, 
aku tak lagi punya nama untuk menyebutnya.

Comments